Angka dalam dakwah

On: Saturday, 24 October 2009



Di dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 65-66, Allâh –subhânahu wa ta’âlâ- berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ (٦٥) الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (٦٦)

65. Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti [1].

66. sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

Dari Pakistan ke Kapit menjejak 7 bulan

On: Saturday, 17 October 2009

Masjid Kapit


Termuhasabah seketika. Tika orang lain bergerak atas maksud dakwah sejauh pakistan menjejak ke bumi kapit dan kawasan pedalaman kapit selama 7 bulan atas keinginan dan pengorbanan belanja sendiri semata-mata untuk menyebarkan risalah tauhid. Dimana aku melangkah dalam dakwah tika ini..?

Musibah & Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah

On: Saturday, 10 October 2009



Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya menukar hukum Allah dengan hukum jahiliyah dan kecenderungan masyarakat memilih serta mengikuti tradisi nenek moyang dengan ajaran sesatnya yang bertolak belakang dari hidayah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Al Qur’an menjelaskan, membenarkan hal tersebut, Allah Swt berfirman:

“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qhashash, 28 : 59)

FirmanNya lagi:

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 117)

FirmanNya lagi:

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa : 147)

FirmanNya lagi:

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra, 17 : 16)

FirmanNya lagi:

“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Isra, 17 : 58)

FirmanNya lagi:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

FirmanNya lagi:

“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl, 16 : 112)

FirmanNya lagi:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim, 14 : 28-29)

FirmanNya lagi:

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dri merka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka Allah sekali-kali berlaku dzalim kepada mereka ,tetapi merekalah yang berlaku dzalim terhadap dir mereka.Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah azab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.” (QS. Rum, 30 : 9-10).

Dan firmanNya lagi:

“(ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri), demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi amat keras siksaan-Nya, (siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.], dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al An fal, 8 : 49-55)

Demikianlah diantara ayat-ayat Allah yang menerangkan sebab-sebab datangnya musibah dan bala bencana.

Rasulullah Saw juga menerangkan akan sebab-sebab musibah dalam haditsnya:

Berkata Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

“Jika timbul maksiat pada ummatku, maka Allah akan menyebarkan azab-siksa kepada mereka.” Aku berkata : Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu tidak ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “ada!”. Aku berkata lagi: Apa yang akan Allah perbuat kepada mereka? Beliau menjawab: “Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keredhaan dari dari Rabbnya.” (HR. Imam Ahmad)

Lima Sebab Datangnya Azab dan Siksa Allah

Rasulullah Saw bersabda:

“Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kamu atau kamu tidak menjumpainya, yaitu,

Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta’un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.
Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh Allah turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.
Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.
Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh Allah, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.
Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Lima Belas Perkara Mendatangkan Musibah & Bala Bencana

Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” Ditanyakan, apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah?

Rasulullah Saw bersabda: “Apabila…

Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,
Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,
Zakat dianggap sebagai cukai (denda),
Suami menjadi budak istrinya (sampai dia),
Mendurhakai ibunya,
Mengutamakan sahabatnya (sampai dia),
Berbuat zalim kepada ayahnya,
Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari’ah),
Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),
Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya,
Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,
Laki-laki telah memakai pakaian sutera,
Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan,
Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan,
Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;
Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang diatasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tananh longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.” (HR. Tirmidzi, 2136)

Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya, antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan penguasa. Korupsi dan ketidakadilan merajalela, segala macam penyakit bermunculan menimpa manusia, yang benar-benar menyulitkan dan membinasakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Oleh sebab itulah, Rasulullah Saw berdoa agar sahabat-sahabatnya tidak menjumpai keadaan yang demikian dahsyat dan terpuruknya. Dari semua perkara yang menyebabkan datangnya siksa dan azab itu. Insya Allah akan berakhir jika manusia dan kaum Muslimin khususnya kembali kepada Allah dan Rasul Nya, berpegang teguh kepada Dinullah (Islam yang sebenar-benarnya, menurut Al Qur’an dan As Sunnah) mengikut petunjuk Rasulnya.

Sebagai penutup, renungkanlah firman Allah Swt berikut serbagai introfeksi kita semua:

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri Beriman dan Bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf, 7: 96)

Wallahu’alam bis showab…

Ditulis oleh: Abu Jibriel

Memelihara Kurniaan Hidayah

On: Sunday, 27 September 2009

Semoga Allah mengurniakan kepada kita keyakinan mengenai betapa mahalnya nikmat hidayah dan betapa bernilainya nikmat iman. Bahkan tiada yang senilai dengannya daripada seluruh isi dunia ini. Hanya dengan berbekal keyakinan awal ini, kita dapat memiliki peribadi Muslim yang sejati. InsyaAllah...

Hidayah bermaksud petunjuk jalan. Hidayah adalah peta petunjuk ke jalan yang benar dan hanya dianugerahkan kepada hamba-hamba yang dikehendaki Allah. Allah adalah zat yang maha memberi petunjuk. Ini bersesuaian dengan salah satu nama indahNya iaitu al-Hadi, bermaksud yang membimbing ke jalan yang benar. Allah memberikan taufik kepada hamba-hambanya yang taat lagi soleh dan membimbing mereka ke jalan yang benar.

Salam 'eidulfitri

On: Sunday, 20 September 2009



Salam 'eidulfitri..
Maaf dipinta di lebaran yang mulia ini atas salah silap dan keterlanjuran kata-kata. Semoga ramadhan ini berjaya menghiasi sifat taqwa dalam diri setiap insan yang telah melalui madrasah tarbiyah ramadhan. Seterusnya dapat menelusuri hari-hari mendatang dengan penuh rasa kehambaan.

Taqobballallahuminna waminkum..

Ikhlas drp
-Bromujaheed & Qamar-

Rahsia Puasa

On: Thursday, 20 August 2009

Ketahuilah bahwa dalam puasa ada sesuatu yang khusus yang tidak ditemukan selain dalam puasa. Puasa mendekatkan hubungan kita kepada Allah SWT, sebagaimana telah Dia katakan:

“Puasa adalah untukku dan aku akan membalasnya.” [Shahih Bukhari dan Muslim]

Hubungan ini sudah cukup menunjukkan tingginya status berpuasa. Seperti halnya, Ka’bah dimuliakan karena dia untuk mendekatkan diri kepadaNya. Sebagaimana pernyataanNya:

“…dan sucikanlah rumahKu…” (QS Al Hajj, 22: 26)

Sungguh, puasa hanya memiliki nilai yang baik dalam dua konsep signifikan:

Pertama: Puasa itu adalah perbuatan rahasia dan tersembunyi selanjutnya tidak ada seorang pun dari mahkluk yang bisa melihatnya. Dengan demikian riya’ tidak bisa masuk ke dalamnya.

Kedua: Puasa adalah sebuah alat untuk menaklukan musuh-musuh Allah. Ini karena jalan yang ditempuh musuh-musuh Allah (untuk menyesatkan anak Adam) adalah dengan hawa nafsu. Makan dan minum itu menguatkan hawa nafsu.

Ada banyak riwayat yang mengindikasikan kebaikan puasa, dan semua telah dikenal dengan baik.

Sunnah-sunnah Puasa

Sahur dan mengakhirkannya adalah lebih baik, menyegerakan untuk berbuka puasa dan mengawalinya dengan memakan kurma.

Kedermawanan dalam memberikan juga sunnah pada saat Ramadhan sebagaimana melakukan perbuatan baik dan meningkatkan kebaikan. Ini sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah SAW.

Kemudian disunnahkan mempelajari Al-Qur’an dan melakukan I’tikaf pada saat Ramadhan terutama pada 10 hari terakhir, sebagaimana kita meningkatkan pelaksanaan (perbuatan baik) di dalamnya.

Dalam dua Shahih, ‘Aisyah berkata:

“Pada saat 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah akan mengencangkan ikat pinggangnya (izaar), menghabiskan malam dalam beribadah, dan membangunkan keluarganya (untuk Shalat).” [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ulama telah menjelaskan dalam dua pandangan berkaitan dengan pengertian dari “mengencangkan ikat pinggangnya (izaar)”:

Pertama: Itu berarti menjauhkan diri dari wanita.

Kedua: itu adalah sebuah ungkapan yang menandakan motivasi yang kuat dari Rosulullah SAW untuk tekun dan kontinyu melaksanakan perbuatan baik.

Mereka juga mengatakan bahwa alasan untuk perbuatannya Rosulullah SAW dalam 10 malam terakhir dalam Ramadhan adalah karena beliau SAW mencari Lailatul Qadar.

Sebuah penjelasan rahasia dan karateristik puasa

Ada tiga tingkatan berpuasa: puasa umum, puasa khusus, dan puasa yang lebih khusus.

Sebagaimana untuk puasa umum, maka itu adalah menahan diri terhadap lapar, haus dan kemaluan dari memenuhi keinginan mereka.

Puasa khusus adalah menahan diri terhadap pandangan, lidah, tangan, kaki, mendengar dan mata, sebagaimana menghentikan badannya untuk melakukan perbuatan dosa.

Kemudian puasa lebih khusus, itu adalah mengosongkan diri dari kerinduannya kepada kepentingan-kepentingan dunia dan memikirkan mana yang menjauhkan seseorang dari Allah.

Dari karateristik spesifikasi yang terakhir adalah bahwa seseorang menundukkan pandangannya dan menjaga lisannya dari perkataan kotor yang terlarang, tidak disukai atau yang tidak bermanfaat, sebagaimana megendalikan ketenangan terhadap anggota tubuhnya.

Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Al Bukhari:

“Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan buruk dan melakukannya, Allah memerlukan dirinya untuk meninggalkan makanan dan minumannya.”

[Shahih Al Bukhari, Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majaah]

Karateristik lain dalan puasa khusus adalah bahwa seseorang tidak mengisi perutnya terlalu banyak dengan makanan pada saat malam. Sungguh, dia makan yang terukur, untuk kebutuhan, anak Adam tidak mengisi sebuah kapal lebih banyak dari pada perutnya.

Jika dia makan untuk memenuhinya pada saat bagian pertama malam, dia tidak akan berhasil memanfaatkan dirinya untuk beramal di sisa malam yang lain. Sebagaimana jika dia makan untuk memenuhi sahur, dia tidak akan berhasil memanfaatkan dirinya sampai sore (jika terlalu kenyang). Ini karena terlalu banyak makan mengakibatkan malas dan kelesuan. Selanjutnya, sasaran dari puasa adalah melenyapkan sifat berlebihan seseorang dalam makan, karena itu yang dimaksudkan dengan puasa, adalah bahwa rasa lapar seseorang kemudian menjadi sebuah keinginan dalam bentuk amal soleh.

Puasa Sunnah

Sebagaimana puasa Sunnah, maka ketahuilah bahwa pilihan untuk berpuasa dilakukan pada hari-hari tertentu. Sebagian dari puasa ini terjadi setiap tahun seperti berpuasa enam hari pada bulan Syawal setelah Ramadhan, puasa hari Arafah, puasa Aasyuraa, dan puasa hari kesepuluh Dzul Hijjah dan Muharram.

Sebagian dari puasa-puasa Sunnah terjadi di setiap bulan, seperti awal bulan, di tengah bulan, dan pada akhir bulan. Kemudian siapa saja yang berpuasa pada bagian pertama bulan, di tengah, ataupun di akhir bulan maka dia telah melaksanakan perbuatan baik.

Sebagian puasa dilakukan setiap minggu dan itu adalah setiap senin dan kamis.

Puasa Sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Daud A.S. Dia akan melaksanakan puasa satu hari dan satu hari berbuka. Ini mencapai tiga sasaran berikut ini:

Jiwa yang diberikan bagiannya pada hari berbuka puasa. Dan pada hari berpuasa, itu benar-benar beribadah penuh.

Pada hari berbuka adalah hari bersyukur dan pada hari berpuasa adalah hari untuk bersabar. Iman terbagi menjadi dua bagian – syukur dan sabar. [Catatan: hadits dengan pernyataan yang sama tidak shahih, lihat Adh Dha’ifah: 625]

Itu adalah usaha yang sulit bagi tubuh. Ini karena setiap waktu jiwa mendapatkan suatu kondisi tertentu, yang mentransfer dirinya ke dalamnya.

Sebagaimana untuk puasa setiap hari, kemudian telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, hadits dari Abu Qatadah, bahwa Umar R.A. bertanya kepada Rasulullah SAW:

‘Bagaimana jika seseorang berpuasa setiap hari?’ Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Dia tidak berpuasa tidak juga dia batalkan puasanya – atau – dia tidak berpuasa dan dia tidak membatalkan puasanya.” [HR Muslim]

Ini berkaitan dengan seseorang yang berpuasa terus menerus, bahkan pada saat dimana dilarang untuk berpuasa.

Karekteristik dari puasa yang paling khusus

Ketahuilah bahwa seseorang yang telah diberikan ilmu mengetahui tujuan di balik berpuasa. Selanjutnya dia membebankan dirinya pada tingkat dimana dia tidak akan bisa melakukan yang lebih bermanfaat daripada itu.

Ibnu Mas’ud berkata: ‘Pada saat aku berpuasa, aku bertambah lemas dalam shalatku. Aku lebih menyukai shalat daripada puasa (sunnah).’

Sebagian dari Shahabat menjadi lemah bacaan Qur’an-nya pada saat sedang berpuasa. Selanjutnya, mereka lebih membatalkan puasa mereka (yaitu dengan mengurangi puasa sunnah), sampai mereka bisa mengimbangi dengan membaca Al-Qur’an. Setiap orang banyak mengetahui tentang kondisi dan bagaimana memperbaikinya.

Wallahu’alam bis showab!

Imam Ibnu Qudaamah Al Maqdisi

Adab-adab sunnah ramadhan

Adab-adab berhubung dengan ibadat mestilah merujuk kepada apa yang ditunjuk ajarkan oleh Allah S.W.T dan Rasulullah s.a.w iaitu al-Quran dan al-Sunnah. Ada sebahagian pihak yang cenderung untuk mencipta adab-adab ibadah tanpa merujuk kepada dua sumber agung itu, misalnya dakwaan yang menyatakan makruh mandi kerap, atau mandi pada hampir waktu berbuka kerana itu boleh mengurangkan keletihan dan sekaligus menghilang kelebihan puasa.

Sedang di dalam hadith yang sahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Malik di dalam al-Mawata’, Ahmad dan Abu Daud di dalam sunannya: Abu Bakar bin Abd al-Rahman meriwayatkan:

قَالَ الَّذِي حَدَّثَنِي لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ مِنَ الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ


“Telah berkata sahabah yang menceritakan kepadaku: “Aku melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala baginda ketika baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas”. Dengan itu Ibn Qudamah al-Maqdisi (meninggal 620H) menyatakan: “Tidak mengapa seseorang mencurahkan air ke atas kapalanya (ketika puasa) disebabkan panas atau dahaga kerana diriwayatkan oleh sebahagian sahabah bahawa mereka melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala baginda ketika baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas”.(Ibn Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, 2/18, cetakan Dar al-Fikr, Beirut).


Apa yang penting di dalam bulan Ramadhan ini adab-adab yang kita kaitkan dengan ibadah puasa mestilah mempunyai asas yang boleh dipegang iaitu al-Quran atau al-Sunnah. Antara adab-adab berbuka puasa yang dinyatakan di dalam hadith:


1: Menyegerakan berbuka apabila masuknya waktu atau disebut ta’jil al-Iftar. Ini berdasarkan hadith-hadith yang menyebut perkara ini, antaranya: Daripada Sahl bin Sa`d; Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ


“Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).


Hadith ini menerangkan punca kebaikan di dalam agama ialah mengikut sunnah Nabi s.a.w. baginda menyegerakan berbuka puasa. Ini menolak dakwaan ajaran-ajaran karut yang kononnya melewatkan berbuka menambah pahala. Kata al-Tibi (meninggal 743H): “Barangkali sebab Allah menyukai mereka yang bersegera membuka puasa ialah kerana apabila seseorang berbuka puasa sebelum solat membolehkannya menunaikan solat dengan dihadirkan hati. Juga ianya menyanggahi ahli bid`ah yang berpendapat wajib melewatkannya. (al-Tibi, Syarh Miskhat al-Masabih, 4/183, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Berut).


2: Berbuka Puasa dengan rutab, atau tamar atau air. Rutab ialah buah kurma yang telah masak sebelum menjadi tamar kering, ianya lembut dan manis. Adapun tamar ialah buah kurma yang sudah kering. (lihat: al-Mu’jam al-Wasit 1/88). Sekarang di negara kita rutab sudah mula dikenali. Ianya kurma yang masak dan masih lagi belum kering dan mengecut. Apabila ianya mengecut dipanggil tamar. Di dalam hadith daripada Anas katanya:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ


Bahawa Rasulullah s.a.w. berbuka dengan puasa sebelum bersolat dengan beberapa biji rutab, sekiranya tiada rutab maka dengan beberapa biji tamar, dan sekiranya tiada tamar maka baginda minum beberapa teguk air. (Riwayat al-Imam Ahamd dan al-Tirmizi, katanya hadith ini hasan) Al-Diya al-Maqdisi (meninggal 643H) telah mensahihkan hadith ini. (lihat: al-Ahadith al-Mukhtarah, 4/411 cetakan: Maktabah al-Nahdah al-Hadithah, Mekah).


Inilah tertib yang dilakukan oleh baginda, pilihan pertama ialah rutab, jika tiada tamar dan jika tiada air. Kata al-Mubarakfuri (meninggal 1353H): Hadith ini menjadi dalil disunatkan berbuka puasa dengan rutab, sekiranya tiada maka dengan tamar, dan sekiranya tiada maka dengan air…Adapun pendapat yang menyatakan di Mekah disunatkan didahulukan air zam-zam sebelum tamar, atau mencampurkan tamar dengan air zam-zam adalah ditolak.


Ini kerana ianya menyanggahi sunnah. Adapun Nabi telah berpuasa (di Mekah) banyak hari pada tahun pembukaan kota Mekah namun tidak pernah diriwayatkan baginda menyalahi adat kebiasaannya mendahulukan tamar sebelum air. (al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwazi, 3/311, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut).


Di samping itu, dakwaan jika tiada tamar maka dengan buah-buahan yang lain juga tiada sebarang dalil daripada sunnah Nabi s.a.w.


3: Menyegerakan solat Maghrib selepas berbuka dengan tamar atau air; sekiranya makanan belum dihidangkan.


Hadith yang kita nyatakan di atas menunjukkan baginda Nabi s.a.w. berbuka dengan rutab atau tamar atau air sebelum bersolat maghrib. Maka kita disunatkan juga mengikuti langkah tersebut iaitu selepas berbuka dengan perkara-perkara tadi lantas terus menunaikan solat. Ini sekiranya makanan belum dihidangkan. Adapun sekiranya makanan telah dihidangkan di depan mata maka dimakruhkan meninggalkan makanan untuk menunaikan solat. Ini berdasarkan apa yang dinyatakan dalam hadith-hadith baginda Nabi s.a.w. antaranya: Daripada Anas bin Malik r.a.: Bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ وَلَا تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ


“Apabila telah dihidangkan makan malam, maka mulakanlah ianya sebelum kamu menunaikan solat maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).


Dalam hadith yang lain daripada `Abd Allah bin `Umar, baginda s.a.w. bersabda: \
إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ وَلَا يَعْجَلْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ


“Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan solat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gapah sehinggalah dia selesai”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Riwayat di atas juga menambah:
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُوضَعُ لَهُ الطَّعَامُ وَتُقَامُ الصَّلَاةُ فَلَا يَأْتِيهَا حَتَّى يَفْرُغَ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ


“Bahawa Ibn `Umar r.a. apabila dihidangkan untuknya makanan manakala solat pula sedang didirikan, maka beliau tidak mendatangi solat melainkan hingga beliau selesai makan sedang beliau mendengar bacaan imam”.


Ini kerana meninggalkan makanan dalam keadaan keinginan yang kuat untuk menjamahnya atau dalam perasaan lapar boleh menghilangkan khusyuk di dalam solat disebabkan ingatan terhadap makanan tersebut. Dengan itu para ulama menyatakan dimakruhkan solat setelah makanan terhidang di hadapan mata. Kata al-Nawawi (meninggal 676H): Di dalam hadith-hadith tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan yang hendak dimakan kerana ianya boleh mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk. (al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 4/208, cetakan: Dar al-Khair, Beirut).


Sebenarnya bukan pada makan malam atau solat maghrib sahaja kita disunatkan mendahulukan makanan yang dihidang sebelum solat, bahkan sunnah ini meliputi semua solat dan waktu makan kerana dibimbangi menghilangkan khusyuk Ini sekiranya makanan telah terhidang di depan mata. Al-Munawi (meninggal 1031H) pula menyebut: “Hadith tersebut menyatakan hendaklah didahulukan makan malam sebelum solat maghrib. Namun ianya juga dipraktikkan juga pada solat-solat yang lain. Ini kerana punca arahan ini ialah bimbang hilangnya khusyuk. (al-Munawi, Faidh al-Qadir, 1/295, cetakan: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, Mesir).


Malangnya ada di kalangan yang kurang faham lalu mereka menyatakan bahawa kalau azan sudah berkumandang hidangan dan makanan hendaklah ditinggalkan demi mengutamakan solat jamaah. Inilah kedangkalan meneliti hadith-hadith Nabi s.a.w., lalu mengandaikan agama dengan emosi sendiri.


Adapun sekiranya makanan belum terhidang atau perasaan keinginan terhadap makanan tiada, maka tidaklah dimakruhkan untuk terus solat. Ini bukanlah bererti kita disuruh mementingkan makanan melebihi solat, sebaliknya tujuan arahan Nabi s.a.w. ini ialah untuk memastikan kesempurnaan solat. Al-Imam Ibn Hajar al-`Asqalani (meninggal 852H) memetik ungkapan Ibn Jauzi (meninggal 597H): “Ada orang menyangka bahawa mendahulukan makanan sebelum solat adalah bab mendahulukan hak hamba ke atas hak Tuhan. Sebenarnya bukan demikian, tetapi ini adalah menjaga hak Allah agar makhluk masuk ke dalam ibadahnya dengan penuh tumpuan. Sesungguhnya makanan mereka (para sahabah) adalah sedikit dan tidak memutuskan mereka daripada mengikuti solat jamaah. (Ibn Hajar al-`Asqalani, Fath al-Bari, 2/385, cetakan: dar al-Fikr, Beirut).


4: Makan dengan kadar yang tidak berlebihan ketika berbuka. Ini bertepat dengan firman Allah S.W.T.
(maksudnya) “Dan makan dan minumlah kamu, dan jangan berlebih-lebih. Sesungguhnya Dia tidak sukakan orang yang berlebih-lebihan. (Surah al-`Araf:31) .


Di dalam hadith baginda s.a.w. menyebut:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ


“Anak adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberikan kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak dapat, maka satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan. (Riwayat al-Tirmizi, katanya: hadith ini hasan sahih. Al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari menyatakan hadith ini hasan).


Hadith ini telah salah difahami oleh sesetengah pihak, lalu mereka menyangka Nabi s.a.w menyuruh umatnya jika makan, hendaklah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan. Sebenarnya jika kita teliti hadith ini bukan demikian, pembahagian tersebut ialah had maksima.

Kalau boleh kurang daripada itu. Sebab itu baginda menyebut jika tidak dapat, maka tidak melebihi pembahagian tadi. Namun yang lebih utama digalakkan sekadar yang dapat memberi tenaga.


5: Berdo`a ketika berbuka. Ini berdasarkan hadith Nabi s.a.w.:
إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
“Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu, do`a yang tidak ditolak ketika dia berbuka.

(Riwayat Ibn Majah, sanadnya pada nilaian hasan dan ke atas. Ishaq bin ‘Abd Allah al-Madani dithiqahkan oleh Abu Zur‘ah dan disebut saduq oleh al-Zahabi dalam al-Kasyif ).


Maka kita boleh berdo`a dengan apa sahaja do`a yang kita hajati. Do`a orang berpuasa makbul disebabkan jiwa yang telah dibersihkan dari kotoran dosa dan syahwat. Justeru itu al-Munawi menyebut: Hadith di atas hanya untuk sesiapa yang telah menunaikan tanggunjawab puasa dengan menjaga lidah, hati dan anggota” (Faidh al-Qadir, 2/500).


Di sana ada do`a yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w ketika berbuka dan disunatkan kita membacanya:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


“Adalah RasululLah s.a.w apabila berbuka, baginda bersabda: “Telah hilanglah dahaga, telah basahlah peluh (hilang kekeringan) dan telah tetaplah pahala, insyaAllah”. (Riwayat Abu Daud, sanadnya hasan)


Namun setiap orang yang menunaikan puasa dengan sepenuhnya hendaklah merebut peluang do`a yang makbul ketika dia berbuka.


Keenam: Berdo`a kepada sesiapa yang menjamu kita berbuka, kata Anas r.a.:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ إِلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَجَاءَ بِخُبْزٍ وَزَيْتٍ فَأَكَلَ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ


“Baginda s.a.w. pernah datang kepada (rumah) Sa`ad bin `Ubadah. Dia menghidangkan roti dan minyak. Baginda pun makan dan bersabda: “Telah berbuka puasa disisi kamu mereka yang berpuasa, telah makan makanan kamu mereka yang baik dan telah berselawat ke atas kamu para malaikat”.(Riwayat Abu Daud, Diya al-Maqdisi dalam Al-Ahadith al-Mukhtarah menyatakan ianya sahih 5/158).


Maka berdo`alah kepada mereka yang menjamu kita berbuka puasa. Ini adab yang sangat baik.
(sumber drmaza.com)